UKM Seni Pancoran: Dari Realitas Sosial Menjadi Karya Seni. 

Kegiatan seni di kampus memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial politik. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni kampus bukan hanya sebagai ruang perkumpulan biasa, seni kampus tumbuh dan berkembang menjadi ruang produksi gagasan-gagasan kebebasan dan kritik terhadap isu sosial.  

Dalam perkembangannya, UKM seni kampus menjadi arena intelektual dan perlawanan mahasiswa terhadap berbagai bentuk yang mengekang dan menutup ruang terhadap kebebasan berekspresi.

Di Masa awal kemerdekaan seni kampus memiliki peran penting dalam dalam percakapan budaya nasional. Bahwa seni bukan hanya menciptakan karya estetika, melainkan bagian dari refleksi kehidupan sosial, politik dan budaya masyarakat. 

Di masa-masa awal kemerdekaan muncul semboyan “Seni Untuk Rakyat”. Semboyan ini di inisiasi oleh banyak seniman dan intelektual di masa itu, semboyan ini muncul sebagai kritik terhadap kesenian yang jauh dari realitas sosial. Seni tidak hanya berada di panggung dan  ruang pameran, tetapi seni harus kembali kepada masyarakat dimana seni dan kebudayaan itu lahir. 

Memasuki era orde baru dibawah rezim otoriter, dimana kebebasan berekspresi tertutup rapat. Ruang-ruang kesenian di monopoli dan dikendalikan kekuasaan, mahasiswa dilarang melakukan kegiatan dan diskusi yang membahas situasi sosial dan politik di masa itu. 

Dalam situasi itu UKM seni kampus menjadi ruang alternatif untuk menyalurkan gagasan kritis walaupun harus bergerak “dibawah tanah”.  UKM seni muncul menyampaikan kritik melalui simbol, metafora dan bahasa tubuh. Karya-karya teater eksperimental dan puisi musikal bermuatan kritik sosial bermunculan. 

Memasuki era reformasi, dimana kebebasan berekspresi dan berpendapat mulai terbuka, di beberapa kampus UKM Seni mulai terbentuk. UKM Seni tidak lagi dibatasi secara gagasan, mereka tumbuh dengan begitu cepat dengan bentuk cukup beragam. Jaringan solidaritas mulai terbentuk, UKM seni mulai berkolaborasi dengan dengan organisasi, komunitas diluar seni untuk menciptakan karya yang relevan dengan kehidupan sosial masyarakat. 

Di era 2000 an, UKM seni kampus di Makassar juga mulai terbentuk, salah satunya UKM Seni Pancoran di Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP).

UKM Seni Pancoran berdiri pada tanggal 5 Agustus tahun 2000. Di awal berdirinya, UKM Seni Pancoran hanya fokus pada seni musik.  Namun seiring berjalannya UKM Seni Pancoran mulai mengembangkan bentuk-bentuk kesenian lainnya yaitu, sastra, tari, rupa, dan  teater. 

25 tahun sejak berdirinya, UKM Seni Pancoran kini memiliki kurang lebih ribuan anggota dan telah menciptakan banyak karya setiap tahunnya. Dari Divisi musik UKM Seni Pancoran telah membentuk kolektif yang beri nama Taman Bunga Band, 0Km Pancoran dan Pancoran Art, dari, ketiga kolektif tersebut telah menciptakan banyak karya seni musik. 

Anggota dan Pengurus UKM Seni Pancoran dalam sebuah pertunjukan di Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP)/Foto: Arsip UKM Seni Pancoran.

UKM Seni Pancoran pernah menjadi tuan rumah dalam festival rock di Makassar, festival rock tersebut diberi nama The Legend Of Rock, yang dilaksanakan di Universitas Kristen Indonesia Paulus.  

Tahun 2024, UKM Seni Pancoran hadir dalam sebuah pertunjukan Muara sungai, laut dan Tallo bersejarah di kecamatan Tallo, Makassar. Sebuah pertunjukan yang diinisiasi oleh sekelompok anak muda Tallo yang berkolaborasi dengan kolektif literasi. Sebuah pertunjukan untuk merawat ingatan kolektif tentang sejarah tallo dan realitas kehidupan sosial di pesisir Tallo. 

Dalam pertunjukannya, UKM Seni Pancoran menampilkan sebuah pertunjukan teater yang mengkritik akses pendidikan di pesisir Tallo. Teater  tersebut berangkat dari pengamatan dan diskusi panjang dengan masyarakat di pesisir Tallo tentang akses pendidikan yang sangat sulit terhadap anak” muda Tallo. Banyak anak-anak di Tallo putus sekolah dan tidak mendapatkan pendidikan yang layak. 

berangkat dari pengamatan dan diskusi panjang tersebut UKM Seni Pancoran mengangkat realitas sosial tersebut dalam bentuk pertunjukan seni teater. Teater tersebut bukan hanya sekedar pertunjukan tetapi bentuk kritik terhadap realitas sosial yang terjadi di pesisir Tallo. 

Selain itu, UKM Seni Pancoran juga telah membuat beberapa karya seni yang mengangkat isu terhadap budaya. UKM Seni Pancoran yang dalam kegiatannya tidak lepas dari upaya untuk mempertahankan budaya lokal lewat berbagai aktivitas keseniannya. 

Sampai saat ini, UKM Seni Pancoran tetap bebas dalam berkarya, termasuk karya seni tari yang seringkali di pentaskan di internal kampus juga pentas kesenian di luar kampus, mulai dari tari tradisional, modern hingga tari kontemporer. Begitupun dengan seni  sastra dan seni rupa yang digelutinya. Hampir seluruh karya seni yang diciptakan berangkat dari kepedulian dan keprihatinan terhadap budaya serta realitas sosial yang ada. 

Di tengah perkembangan generasi Alfa yang serba teknologi, UKM seni Pancoran tetap mendorong anggotanya untuk lebih jauh memahami adat dan budayanya, karena adat budaya bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Terutama dalam penciptaan karya seni. 

Selain fokus dalam dalam penciptaan karya seni, UKM Seni Pancoran juga fokus terhadap pengembangan sumber daya manusia lewat pendidikan dan workshop. Di penghujung tahun 2025 ini, UKM Seni Pancoran akan kembali melakukan perekrutan anggota sebagai bentuk regenerasi organisasi.  Perekrutan anggota ini merupakan agenda tahunan UKM Seni Pancoran, dan ini menjadi workshop yang ke 25 sejak UKM Seni Pancoran berdiri sejak tahun 2000. “Metamorfosa” menjadi tema workshop ke 25 tahun ini. 


Penulis : Firman Parongrean

(Ketua UKM Seni Pancoran periode 2024-2025)